komunitas film indie Jember,

Menangkap Peluang Kerja Film dalam Sudut Pandang Lokal

Desember 16, 20171 Comments



Kalau berbicara tentang Jember, sebuah kota di ujung Jawa dengan luas hampir 4.000 km itu memiliki banyak sumber daya yang bisa dieksplore. Salah banyaknya antara lain tempat wisata, kesenian tradisional hingga kuliner.

Jember pun memiliki berbagai macam julukan, salah satunya adalah kota Santri. Disebut begitu karena di Jember terdapat banyak pesantren, mulai dari pesantren yang kecil hingga pesantren-pesantren besar, dimana santrinya bisa mencapai ribuan. Banyaknya santri di Jember ini menandakan bahwa geliat kerohanian Islam sangat tinggi.

Selain itu, para pemudanya pun merupakan orang-orang yang penuh kreatifitas tinggi. Ada banyak komunitas atau perkumpulan pemuda dan masyarakat yang bergerak untuk memajukan Jember. Salah satunya adalah Masyarakat Film Jember (MFJ), yang digagas oleh Bobby Rahadian, seorang penulis naskah lokal.

Kalau berbicara tentang film, sebenarnya FILM adalah media komunikasi yang bersifat audio visual untuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat tertentu. Pesan film pada komunikasi massa dapat berbentuk apa saja tergantung dari misi film tersebut.

MFJ pun memiliki impian, seperti yang dikatakan oleh Ipank, ketua MFJ Jember pada Bincang Sore, Rabu 11 Oktober 2017 di Cafe Klasik, Jl. S. Parman No. 59 Jember, Lantai 2 yang menjadi satu dengan area PT. Warna Indonesia Tour, bahwa dengan dan melalui film, ada gerakan nyata yang dibuat untuk memajukan Jember.



Syaikh As-Sa’Dy berkata, “Allah menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian, sebagai bentuk kebaikan dan rahmat untuk kalian, agar kalian dapat mengambil manfaat, menikmati, serta mengambil pelajaran.”

Melalui film, ada banyak hal yang bisa kita ketahui. Film bisa merepresentasikan sejarah, kisah di masa lalu, dimana kita bahkan belum lahir, atau bayangan masa depan, bisa juga keindahan tempat-tempat yang bahkan tidak pernah kita kunjungi atau kebaikan-kebaikan yang bisa menjadi teladan dari kisah-kisah pejuang-pejuang pada masa peradaban emas yang lalu.

Dalam suatu produksi film, ada banyak hal yang harus dipersiapkan, antara lain narasi, wardrobe, cast, perlengkapan broadcast, dana, dan sebagainya. Itu artinya seorang sineas, harus memiliki pengetahuan akan semua itu dalam memproduksi sebuah film, agar film yang dia produksi, pesannya dapat ditangkap oleh masyarakat. Ada kualitas yang menjadi standar dan ada visi-misi dalam sebuah film.

Niat dan minat masyarakat Jember pada Film juga harus mendapat jalan atau peluang yang benar bersama orang-orang yang berpengalaman di bidangnya agar dapat saling mendatangkan manfaat dan saling mengambil pelajaran. Karena itu,. MFJ diharapkan menjadi tempat sharing untuk semua elemen yang ada di film.



Untuk membuktikan komitmennya dalam mengembangkan film indie, MFJ memiliki ‘program’ produksi film pentalogi, dimana dua diantaranya telah selesai diproduksi yaitu ‘Tentang Menemukan’ dan ‘Snapshot’. Selain itu, MFJ juga memiliki cita-cita untuk mengadakan Festival Film Jember dan bisa bersaing dengan kota-kota lain dalam produksi film indie.

Di Jember sendiri juga ada banyak komunitas atau perkumpulan sineas, mulai dari tingkat SMA hingga universitas. MFJ terbuka bagi mereka semua sebagai tempat berbagi ilmu dan partner yang bisa diajak bekerjasama.

Harapannya dengan adanya MFJ ini, akan banyak bermunculan film-film berkualitas yang bisa membawa Jember ke dalam perubahan yang lebih baik dan dalam keberkahan. Akan ada sineas-sineas masa depan yang memproduksi film ‘menggugah’ hati dan menjadi pelajaran bagi orang lain, tidak hanya sekedar menjadi hiburan dan tontonan, tapi ada hikmah yang bisa kita petik.

Artikel lainnya:

1 komentar: